Sabtu, 25 April 2009

Eceng Gondok, Si Hijau 'Pemakan' Logam Berat



Tahu eceng gondok kan?? Yaaapp, tanaman yang sering kita jumpai mengapung di perairan ini memang terkenal sebagai tanaman penganggu sampai-sampai tumbuhan ini dijuluki “Gulma terburuk di dunia”. Tapi ternyata eceng gondok juga punya nilai guna lho. Mau tahu???

Tapi sebelumnya kita kenalan dulu sama tanaman yang satu ini. Eceng gondok (Eichornia crassipes ), merupakan tumbuhan eksotik yang didatangkan dari luar Indonesia, jadi tumbuhan ini bukan tumbuhan asli negara kita. Tumbuhan ini masuk ke dalam kelas Monocotylodenae dan keluarga Pontederiaceae.

Sejarahnya, tumbuhan ini dibawa pas zaman kolonial Inggris dulu. Karena warna bunganya yang menarik, eceng gondok ini ditanam di kolam yang ada di Kebun Raya Bogor kemudian tersebar ke sungai-sungai di sekitar kebun raya dan akhirnya pertumbuhannya meluas ke perairan-perairan lain seperti yang kita jumpai sekarang.

Pertumbuhan dari tanaman ini memang susah buat ditanggulangi karena eceng gondok memiliki kemampuan adaptasi yang sangat baik terutama di lingkungan tropis dan juga sub-tropis. Kemampuannya dalam berkembang biak juga sangat tinggi. Eceng gondok berkembang biak secara vegetatif dengan stolon dan bisa juga secara generatif dengan biji. Buku Weed Control in River Basin Management mengatakan kalau jumlah eceng gondok bisa berubah menjadi dua kali lipatnya hanya dalam jangka waktu 10 hari. Ga heran kan kenapa eceng gondok jadi susah banget buat ditanggulangi...

Memang banyak sih masalah yang ditimbulkan sama keberadaannya, seperti masalah-masalah yang berkaitan dengan penyediaan air bersih, keselamatan lingkungan, konservasi satwa liar, perikanan sampai ke pengendalian banjir. Tapi sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor membuktikan bahwa ternyata eceng gondok bisa digunakan sebagai penyerap dari logam-logam berat yang terdapat di air khususnya di limbah-limbah industri.

Industri-industri yang ada seperti industri kimia menghasilkan limbah-limbah industri yang mungkin mengandung logam-logam berat yang berbahaya buat kesehatan manusia dan juga keselamatan lingkungan. Akumulasi dari logam-logam berat ini di tubuh manusia sangat berbahaya, karena tubuh ga bisa memetabolisme logam-logam berat tersebut, sehingga dalam jangka panjang akan menimbulkan gangguan kesehatan seperti timbulnya penyakit minamata, bibir sumbing sampai kerusakan pada sistem syaraf. Ngeri kan??

Dari penelitian tersebut didapatkan fakta bahwa eceng gondok bisa menurunkan kadar logam Fe dan Pb. Kadar Fe dan Pb diukur dengan menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) dengan panjang gelombang 248,3 nm untuk Fe dan 217 nm untuk Pb.

Ternyata pada hari ke-7 ditemukan penurunan kadar Fe yang sangat signifikan, yaitu 3,177 ppm (65,45 %) untuk 1 rumpun eceng gondok, 3,511 ppm (71,93 %) untuk 2 rumpun eceng gondok dan 3,686 ppm (74,47 %) untuk 3 rumpun eceng gondok. Di hari-hari berikutnya terlihat bahwa penyerapan logam Fe-nya semakin baik hingga mencapai kadar 0 (nol) di hari ke-28 untuk percobaan yang menggunakan dua dan tiga rumpun eceng gondok.

Hasil penelitian untuk timbal (Pb)-pun ga jauh berbeda. Kadar logam Pb menurun 5,167 ppm (96,4 %) untuk 1 rumpun eceng gondok, menurun 5,204 ppm (98,7 %) untuk 3 rumpun, dan menurun 6,019 ppm (99,7 %) untuk 5 rumpun dari konsentrasi hari ke-0.

Dari penelitian tersebut diyakini kalau eceng gondok juga bisa menyerap Hg, Zn, dan Cu karena secara struktur kimia logam-logam tersebut sama-sama termasuk dalam golongan logam berat seperti Fe dan Pb. Tetapi ternyata ga cuma logam-logam tadi aja yang bisa “dimakan” sama eceng gondok. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh para pakar menyatakan bahwa Cr, Ni, dan Cd juga dapat diserap secara maksimal oleh tumbuhan ini, bahkan residu dari pestisida-pun bisa diserapnya. Hebat kan???

So, ga cuma masalah aja kan yang ditimbulkan sama si eceng gondok ini? Ternyata tumbuhan ini bisa jadi penyelamat lingkungan kita dari gangguan polutan logam-logam berat. Memang ya, segala sesuatu yang diciptakan oleh-Nya ga ada yang sia-sia...


xoxo

Friska

Referensi:

Kompas, tulisan dari Dr Hasim DEA Dosen Biokimia dan Toxikologi FMIPA dan Pascasarjana IPB

Problema Eceng Gondok di Ibu Kota, by: Taufikurahman

Selasa, 21 April 2009

Akhirnyaaaa,, ditulis jugaaa...

Setelah menyimpan rencana sekian lama buat bikin blog,, akhirnyaa bikin juga deh gw... thanx buat pak arief yang telah membuat rencana ini terealisasi juga... hahahahaaaaiiiii...
Awal mulanya, di suatu jumat pagi,, gw ga tau tanggal berapa, tiba2 hadirlah sebuah tugas yang mencengangkan seluruh kelas.. pada disuruh bikin tulisan tentang chemical engineering dan mesti dipublish di blog masing2.. akhirnya,, jadilah blog merana ini.. merana karena ga pernah gw sentuh2..
Tapi hari ini gw memutuskan buat mulai "menyentuhnya".. syapa tau jadi ada semangat buat mulai menggarap tugas OPB gw.. yaaaa,, semoga... heheheheheeee....